SMPN
11 Madiun merupakan sekolah dengan inovasi Pendekar Berkumis, mampu mengelola
sampah dan lingkungan dengan baik. Ada pemilahan sampah sehingga volume yang
terbuang ke TPA kota sedikit. Jumlah emisi karbon di lingkungan sekolah
bernilai kecil. Bank sampah mampu menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk
membantu siswa kurang mampu, serta sebagai pemasukan bagi kas sekolah.
Pengelolaan sampah yang didukung semua warga sekolah dan masyarakat sekitar
termasuk orangtua dan stake holder yang ada, mewujudkan lingkungan yang nyaman
buat belajar.
Begitu
juga dengan pengelolaan lingkungan non sampah, yakni tanaman produktif di SMPN
11 Madiun, tertata dengan baik. Hasil panen terjual di kalangan guru, siswa,
orangtua dan Masyarakat sekitar.
Namun
dibalik pengelolaan lingkungan dan sampah yang terkelola baik, ada permasalahan
yang muncul, yakni pengelolaan sampah dan hasil panen tanaman produktif belum
memiliki nilai pakai dan jual yang tinggi. Sampah yang terpilah dan tertumpuk
di rumah bank sampah BERKAH hanya dijual langsung ke pengepul. Sampah organic
hanya sebatas daun-daun yang rontok dan dibuat kompos. Sedangkan tanaman
produktifnya hanya dipanen dan dijual bagi siapa saja yang berminat. Jika
produksi panen melimpah, seringkali guru dan siswa kewalahan menyalurkan karena
pembeli jenuh mengolah sayuran yang sama. Bahkan tanaman rempah seringkali
hanya sebagai pajangan saja di sekolah.
Seiring dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terbentuk sampah organic yang berasal dari kulit buah, buah sisa hasil makan siswa. Sehingga menambah volume sampah akhir yang ada di sekolah. Hal tersebut menimbulkan permasalahan bagi sekolah dan siswa. Hasil jelajah lingkungan dan sampah di sekolah, muncul ide untuk mengelola lebih baik lagi, sehingga nantinya punya nilai pakai dan jual yang tinggi.